Breaking News
Loading...

Tri Sumono, Dahulu Tukang Sapu Kini Beromzet 1Milyar Perbulan

Tri Sumono, Dahulu Tukang Sapu Kini Beromzet 1Milyar Perbulan
Tri Sumono, Dahulu Tukang Sapu Kini Beromzet 1Milyar Perbulan - Pembaca IdePeluangBisnis yang setia, kemarin malam Selasa (16/12), tepatnya dalam sebuah program acara hiburan Hitam Putih, yang dipandu oleh Deddy Cobuzier,  menampilkan seorang anak manusia yang sukses dari kehidupan yang sangat sulit dan antah berantah menjadi seorang yang begitu sukses dengan berpenghasilan 1,5 Milyar lebih perbulan. Sosok pengusaha yang satu ini dikenal dengan nama Tri Sumono.

Diskusi malam itu yang diawali dengan pertanyaan ringan dan santai Deddy Cobuzier tentang asal muasal daerah Tri Sumono. "Dahulunya sebelum ke Jakarta, Bapak itu dari Gunung Kidul Pak, Ya"? Dan dijawab Tri Sumono, "Ya, betul dari Gunung Kidul". Terus Dedi bertanya lagi, " cuman modal ijasah SMA"? Dan spontan pun dijawab "Ya", oleh Pak Tri Sumono.

Tri Sumono, Dahulu Tukang Sapu  Jadi Pengusaha Sukses
Tri Sumono, Dahulu Tukang Sapu Kini Beromzet 1Milyar Perbulan/Tri Sumono


Masa Kecil Tri Sumono Yang Tidak Pernah Juara Kelas.
Kisah berawal dari seorang anak petani yang besar dan tumbuh tanpa seorang ayah, karena ayah 
beliau sudah meninggal sewaktu masih kecil. Dan beliau pun meneruskan pahit getirnya kehidupan 
bersama seorang ibu, hingga lulus SMA di kampung halaman.

Tidak pernah juara kelas, malahan paling sering rangking buncit dan pernah tidak naik kelas sekali di SD. Namun di SMP dan SMA naik kelas terus tetapi tetap rangking paling belakang. Bahkan para gurunya mengaku paling pusing untuk mengajar Tri, karena lemot (kurang tanggap)terhadap pelajaran. Dan sedikit bergurau Pak tri berkata, "Saya lulus SMA itu karena guru kasihan saja. Mungkin karena saya gigih untuk belajar". Sontak penonton di Studio pun seluruhnya tertawa.

Perjuangan Hidup di Kota Metropolitan Jakarta.
Sejurus kemudian barulah Pak Tri Sumono mengisahkan sejarah panjang kehidupannya mengadu nasib dan peruntungan di Metropolitan. Setelah lulus, Tri Sumono membawa ijazah SMA-nya ke Jakarta pada tahun 1993, dengan berbekal sarung satu, baju kaos dua, dan satu celana. Numpang di tempat saudara dan tidak tahu harus berbuat apa di Ibukota.

Sembari menunggu pekerjaan yang layak Tri Sumono menjadi buruh kasar bangunan dengan mengambil bagian tukang aduk semen selama 6 bulan. Menurut Pak Tri, disaat beliau jadi buruh bangunan, waktu yang paling bahagia itu adalah hari Sabtu, karena hari tersebut gajian. Dan langsung beli nasi bungkus pakai telur dan es teh manis.

Tahun 1994, Tri Sumono mendapatkan pekerjaan baru sebagai Tukang Sapu di Koran Kompas. Tugasnya membersihkan dan menyapu halaman, parkiran, dan taman. Pekerjaan ini dilakoninya selama setahun, karena tahun berikutnya naik jabatan menjadi Office Boy.

Waktu itu berumur 23 tahun dengan profesi sebagai Office Boy, Tri muda menikahi seorang gadis 
bekas teman SMP dulu di kampung halaman. Berbekal gaji Rp. 250ribu mereka hidup dengan mengontrak rumah seharga Rp.200ribu dan untuk kebutuhan sehari-hari sisa gajinya, Rp.50ribu.

"Profesor mana yang bisa hidup dengan uang Rp.50ribu untuk kebutuhan sebulan," celetuk Tri Sumono yang membuat Deddy Cobuzier dan tertawa terbahak-bahak.

Berbekal Hidup 50ribu, Mulai Berpikir Cari Tambahan.
Saking tidak punya tambahan lain selain sisa gaji yang Rp.50ribuan perbulan itu, Tri berusaha memutar otak untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Tanpa modal sama sekali, Tri menawarkan diri untuk menjualkan barang dagangan milik orang lain. 

Apa saja yang bisa jadi uang, dijualnya. Jadi tidak hanya satu barang saja yang bisa dijualnya. Barang titipan yang pertama dijualkan Tri Sumono adalah 1 kilo bawang putih, dijajakn ke sekeliling komplek tempat tinggalnya.


Dengan bermodal kepercayaan dan barang titipan orang lain Tri Sumono memulai bisnisnya. Sehingga tidak salah juga prinsip, Tanpa Modal Bisnis Bisa Kita Jalankan dan Berhasil.

Kemudian Pak Tri punya teori dan prinsip bisnisnya yaitu, 10% mendengarkan, 20% memahami, 30% melakukan. Dan berbisnis itu tidak hanya dimulut dan sekedar teori tetapi juga dibarengi dengan penyatuan hati dan pikiran serta segera lakukan "action".


Titik balik yang membuat Tri Sumono lebih giat lagi adalah saat anaknya sakit dan divonis kurang gizi oleh dokter. Diwaktu itulah Tri Sumono lebih tergerak lagi untuk berjuang memperbaiki kehidupan keluarganya.

Dan Tri menambahkan, Istri adalah motor penggerak utama dalam menjalankan usahanya. Sebab tanpa istrinya, belum tentu kesuksesan seperti saat inibisa diraih. Ini menjadi prinsip dalam kehidupan dan usahanya.

Kemudian setelah sukses, tahanlah dengan segala macam godaan. Karena itu hanya akan menghancurkan usaha itu sendiri, ungkap Tri Sumono yang diamini Host Deddy.

Apa Saja Bisnis Yang Digeluti Tri Sumono.
Meskipun masih berstatus sebagai karwayan di Kompas Gramedia. Tri Sumono memiliki aktivitas bisnis lainnya yaitu usaha kopi jahe, sari beras merah, jasa pengemasan, pengadaan alat tulis kantor, kontrakan, sembako, servis mesin cetak, properti, peternakan.

Proses bisnis tiap orang itu bermacam-macam, dari kegagalan-kegagalan hingga ditipu orang pernah dialami Tri Sumono. Nah itulah namanya bumbu usaha itu seperti itu. Sebab tanpa itu gak seru...Usaha yang sering gagal itu sebenarnya adalah kurang ilmu, jadi kuncinya terus dipelajari dan cari ilmunya.

Omset Tri Sumono dengan seabrek usahanya itu telah mencapai 1-1.5 Milyar perbulan. Dan Tri Sumono menekankan keberhasilannya ini tidak terlepas dari doa seorang ibu. Jadi Ibu adalah segala-galanya yang akan membuat seorang anak itu sukses dan berhasil di kemudian hari.

Itulah sekelumit kisah Sukses Tri Sumono, bapak yang dikaruniai dua anak yaitu Dewi Puspita Sari yang tengah kuliah di Universitas Diponegoro, yang satu lagi Dewi Puspita Sari Salma Satri

Semoga kisah ini, Tri Sumono, Dahulu Tukang Sapu Kini Beromzet 1Milyar Perbulan bermanfaat dan bisa menginspirasi Anda. Oiya, jika Pembaca belum baca artikel sebelumnya silahkan klik aja judul berikut, 7 Media Sosial Untuk Promosi Bisnis Selain Facebook